07, Fri Aug 2026
Banyak perusahaan Indonesia masih fokus pada kualitas produk, kapasitas produksi, dan harga saat mengekspor ke Eropa. Padahal, pembeli di Uni Eropa mulai meminta informasi lain yang sama pentingnya, yaitu jejak emisi karbon dari produk yang mereka beli.
Permintaan tersebut muncul karena Uni Eropa menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). Aturan ini mengubah cara perusahaan melakukan ekspor, terutama bagi industri yang menghasilkan emisi karbon tinggi.
Artinya, perusahaan tidak cukup hanya menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi. Data emisi yang akurat juga menjadi bagian dari persyaratan perdagangan.
CBAM atau Carbon Border Adjustment Mechanism adalah kebijakan Uni Eropa yang mengatur pelaporan emisi karbon untuk produk impor. Tujuan utamanya adalah menciptakan persaingan yang lebih adil antara produk yang diproduksi di Uni Eropa dan produk yang berasal dari negara lain.
Industri di Eropa telah dikenakan biaya karbon melalui sistem perdagangan emisi. Agar tidak terjadi perpindahan produksi ke negara yang memiliki aturan emisi lebih longgar, Uni Eropa menerapkan CBAM pada sejumlah produk impor.
Melalui mekanisme ini, importir di Eropa harus melaporkan emisi yang terkandung dalam produk yang mereka beli dari luar Uni Eropa. Karena itu, eksportir juga perlu menyediakan data emisi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Siapa yang Perlu Memperhatikan CBAM?
Pada tahap awal, CBAM berlaku untuk beberapa sektor dengan intensitas emisi tinggi, antara lain:
Jika perusahaan Anda memproduksi atau mengekspor komoditas tersebut ke Uni Eropa, persiapan CBAM sebaiknya dilakukan sejak sekarang.
Meskipun perusahaan belum termasuk dalam daftar sektor tersebut, bukan berarti dapat mengabaikan isu karbon. Banyak perusahaan global mulai meminta data emisi kepada seluruh pemasok sebagai bagian dari kebijakan rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Banyak eksportir baru menyadari pentingnya CBAM setelah menerima permintaan data emisi dari pelanggan di Eropa. Padahal, menyusun data tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Perusahaan perlu mengumpulkan data penggunaan listrik, bahan bakar, bahan baku, proses produksi, hingga volume produksi. Seluruh data tersebut kemudian dihitung menggunakan metodologi yang sesuai agar menghasilkan nilai emisi yang akurat.
Semakin lengkap data yang dimiliki, semakin mudah perusahaan memenuhi permintaan buyer maupun kewajiban pelaporan yang berlaku.
Sebaliknya, jika data belum tersedia atau perhitungannya kurang tepat, proses ekspor dapat menjadi lebih rumit karena importir membutuhkan informasi tersebut untuk memenuhi kewajibannya di Uni Eropa.
Skenario seperti ini mulai sering terjadi. Tim penjualan menerima email dari pelanggan di Eropa yang meminta data emisi karbon untuk produk yang akan dikirim. Permintaan tersebut kemudian diteruskan ke bagian produksi, engineering, HSE, atau sustainability. Setelah ditelusuri, ternyata data yang dibutuhkan belum pernah dihitung secara lengkap.
Kondisi tersebut bukan berarti perusahaan tidak peduli terhadap lingkungan. Masalahnya lebih sederhana. Selama ini sebagian besar perusahaan memang belum pernah memiliki kebutuhan untuk menghitung emisi pada tingkat produk atau fasilitas secara rinci.
Data penggunaan listrik tersedia di bagian utilitas. Konsumsi bahan bakar berada di departemen operasional. Volume produksi dikelola oleh bagian produksi. Semua informasi itu sebenarnya ada, tetapi masih tersebar di berbagai unit kerja sehingga membutuhkan waktu untuk dikumpulkan dan diverifikasi.
Karena itu, perusahaan yang mulai menyusun inventarisasi emisi sejak sekarang akan lebih siap ketika pelanggan meminta data atau ketika persyaratan pelaporan menjadi semakin ketat.
Agar proses adaptasi berjalan lebih mudah, perusahaan dapat memulai beberapa langkah berikut.
1. Mengidentifikasi Produk yang Terdampak
Pastikan terlebih dahulu apakah produk yang diekspor termasuk dalam cakupan CBAM. Informasi ini akan menentukan kebutuhan data dan pelaporan yang harus dipersiapkan.
2. Menyusun Greenhouse Gas Inventory
Inventarisasi emisi gas rumah kaca menjadi dasar dalam penyusunan laporan emisi. Proses ini mencakup identifikasi sumber emisi, pengumpulan data aktivitas, hingga perhitungan emisi menggunakan standar yang berlaku.
3. Membangun Sistem Pengelolaan Data
Pengumpulan data akan jauh lebih mudah apabila perusahaan memiliki sistem yang terdokumentasi dengan baik. Data penggunaan energi, konsumsi bahan bakar, produksi, dan aktivitas operasional perlu dicatat secara konsisten.
4. Melakukan Evaluasi Emisi
Setelah data tersedia, perusahaan dapat mengetahui proses mana yang menghasilkan emisi terbesar. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun program efisiensi energi maupun pengurangan emisi.
5. Menyiapkan Pelaporan
Laporan emisi yang lengkap dan terdokumentasi dengan baik akan mempermudah komunikasi dengan buyer, auditor, maupun pihak lain yang membutuhkan informasi tersebut.
Menyusun data emisi untuk CBAM bukan pekerjaan yang hanya digunakan sekali. Setelah inventarisasi emisi tersedia, perusahaan dapat memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan lain tanpa harus mengulang proses pengumpulan data dari awal.
Data tersebut dapat digunakan sebagai dasar penyusunan Sustainability Report, program ESG, target pengurangan emisi, hingga penyusunan roadmap Net Zero. Beberapa perusahaan juga memanfaatkannya untuk menjawab permintaan data dari pelanggan, investor, atau lembaga keuangan yang mulai memasukkan aspek lingkungan dalam proses penilaian.
Selain itu, hasil perhitungan emisi sering membantu perusahaan menemukan proses yang paling banyak menggunakan energi atau menghasilkan emisi terbesar. Informasi ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan biaya energi.
Semakin baik kualitas data yang dimiliki, semakin mudah perusahaan memenuhi berbagai kebutuhan pelaporan dan mengambil keputusan berbasis data, baik untuk kebutuhan ekspor maupun pengembangan bisnis ke depan.
Persiapan CBAM melibatkan lebih dari sekadar menghitung emisi karbon. Perusahaan perlu mengumpulkan data dari berbagai departemen, memastikan metode perhitungan yang digunakan sudah sesuai, serta menyusun dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan ketika diminta oleh buyer atau pihak terkait.
Bagi perusahaan yang sudah memiliki tim sustainability atau HSE yang kuat, proses ini mungkin dapat dikerjakan secara internal. Namun, tidak sedikit perusahaan yang masih memiliki keterbatasan sumber daya, baik dari sisi tenaga ahli, waktu, maupun pengalaman dalam menyusun inventarisasi emisi dan pelaporan karbon.
Konsultan Karbon seperti Actia akan membantu menyusun rencana kerja yang jelas, menentukan data yang dibutuhkan, memilih metode perhitungan yang sesuai, hingga memastikan setiap tahapan berjalan lebih sistematis.
Selain mempercepat proses, pendampingan juga membantu mengurangi risiko kesalahan perhitungan, data yang tidak lengkap, maupun revisi yang dapat memperlambat proses pelaporan. Perusahaan pun dapat tetap fokus pada kegiatan operasional, sementara proses penyusunan data emisi berjalan secara terarah.
Pendekatan ini umumnya membuat proses persiapan CBAM lebih efisien, terdokumentasi dengan baik, dan lebih siap ketika pelanggan atau regulator meminta informasi mengenai emisi karbon produk yang dihasilkan.
Banyak perusahaan baru bergerak setelah buyer meminta data emisi. Padahal, penyusunan inventarisasi emisi membutuhkan waktu, koordinasi lintas departemen, dan data yang lengkap.
Memulai lebih awal memberi perusahaan kesempatan untuk memperbaiki kualitas data, membangun sistem pelaporan yang lebih rapi, dan menyusun strategi pengurangan emisi secara bertahap.
Jika perusahaan Anda sedang mempersiapkan ekspor ke Uni Eropa atau membutuhkan pendampingan terkait CBAM, GHG Inventory, Carbon Footprint, maupun strategi dekarbonisasi, tim Actia siap membantu mulai dari pengumpulan data hingga penyusunan laporan. Konsultasikan kebutuhan perusahaan Anda dengan Tim Actia. Klik di sini!
Kami update pembahasan tentang berita dan aturan mengenai emisi karbon