27, Thu Mar 2025
Pernahkah Anda membayangkan bahwa setiap aktivitas harian yang Anda lakukan mulai dari menyalakan lampu, berkendara, hingga memesan makanan online meninggalkan “jejak” tak kasatmata yang berdampak pada planet ini? Jejak tersebut adalah carbon footprint atau jejak karbon. Secara sederhana, jejak karbon merupakan total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia, organisasi, atau produk. Emisi ini diukur dalam satuan ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Lebih dari sekadar angka, jejak karbon merupakan cerminan dari gaya hidup dan pilihan yang kita buat. Jejak karbon seperti bayangan kita.
Jejak karbon dapat dikategorikan ke dalam dua jenis utama:
Setiap kali kita menggunakan listrik dari pembangkit batu bara, mengonsumsi daging sapi, atau bahkan membuang sampah plastik, kita berkontribusi pada peningkatan jejak karbon. Menurut Global Carbon Project (2023), emisi CO2 global mencapai rekor 36,8 miliar ton, naik sebesar 1,1% dibanding pada 2022, dengan sektor energi menyumbang 73,2% dari total tersebut.
Fenomena perubahan iklim yang dipicu oleh akumulasi gas rumah kaca telah menyebabkan kenaikan suhu global rata-rata 1,1°C sejak era pra-industri. Jika tren ini terus berlanjut, Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC) memprediksi kenaikan suhu bisa mencapai 2,7°C pada 2100, yang akan memperparah bencana alam, kelangkaan pangan, dan krisis kesehatan.
Jejak karbon dihasilkan dari berbagai aspek kehidupan kita, mulai dari hal-hal kecil hingga aktivitas industri besar. Beberapa penyumbang utama jejak karbon meliputi:
Di Indonesia Sektor energi masih menjadi penyumbang besar jejak karbon nasional. Pembangkit listrik berbasis batubara masih mendominasi pasokan energi di Indonesia, meskipun pemerintah telah berkomitmen untuk beralih ke energi terbarukan. Transisi ini berjalan lambat karena tingginya ketergantungan pada batubara dan minimnya investasi dalam infrastruktur energi hijau.
Lalu, di tingkat global, emisi karbon dari industri penerbangan dan maritim semakin mengkhawatirkan. Meskipun ada upaya untuk mengurangi emisi melalui teknologi bahan bakar yang lebih bersih, pertumbuhan pesat sektor ini membuat target pengurangan karbon semakin sulit dicapai. Selain itu, gaya hidup konsumtif masyarakat modern, terutama di negara maju, turut memperbesar jejak karbon global melalui produksi sampah elektronik dan limbah fashion yang masif.
Jejak karbon menjadi perhatian penting karena dampaknya terhadap perubahan iklim. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan efek rumah kaca, yang memerangkap panas dan meningkatkan suhu rata-rata bumi. Nah, peningkatan suhu bumi akan berpotensi membawa banyak masalah. Seperti cuasa panas yang ekstrem atau pola perubahan cuaca menjadi tidak menentu. Es di kutub juga ikut mencair, membuat permukaan air laut naik dan mengancam daerah-daerah pantai. Lingkungan alami pun ikut terganggu; perubahan suhu dan hujan membuat banyak hewan dan tumbuhan kesulitan bertahan hidup. Dampaknya tidak berhenti di situ, kesehatan kita juga bisa terpengaruh, mulai dari kualitas udara yang menurun, risiko penyakit pernapasan, hingga penyebaran penyakit menular yang jadi lebih mudah. Makanya, penting sekali bagi kita untuk peduli dan berusaha mengurangi jejak karbon kita agar dampak perubahan iklim ini tidak semakin parah.
Kesadaran akan pentingnya mengurangi jejak karbon mendorong kita untuk mengadopsi perubahan dalam rutinitas sehari-hari. Mulailah dengan menjadi lebih bijak dalam penggunaan energi, seperti memilih perangkat elektronik hemat daya, mematikan lampu yang tidak perlu, dan mengatur suhu pendingin udara secara efisien. Dalam hal mobilitas, pertimbangkan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki, daripada selalu mengandalkan kendaraan pribadi. Dukunglah transisi menuju sumber energi terbarukan dengan memanfaatkan tenaga surya atau angin jika memungkinkan. Selain itu, mengurangi konsumsi daging dapat memberikan dampak signifikan, mengingat peternakan merupakan salah satu penyumbang emisi metana yang besar. Kita juga dapat menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) untuk meminimalkan produksi sampah dan memilih produk lokal serta berkelanjutan untuk mengurangi emisi transportasi dan jejak lingkungan. Dengan langkah-langkah sederhana namun berdampak ini, kita bersama-sama membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Kami update pembahasan tentang berita dan aturan mengenai emisi karbon