Ecolabel Tipe II: Klaim Ramah Lingkungan yang Harus Bisa Dibuktikan

29, Fri May 2026

Di pasar sekarang, kata-kata seperti eco-friendly, recyclable, biodegradable, hemat energi, atau mengandung bahan daur ulang sudah sering muncul di kemasan produk, katalog, website, sampai materi promosi perusahaan.

Sekilas terlihat sederhana. Tapi untuk perusahaan, klaim seperti itu tidak bisa asal dipasang. Begitu sebuah produk menyebut dirinya lebih ramah lingkungan, akan muncul pertanyaan penting: dasarnya apa, datanya mana, dan apakah klaim itu bisa dipertanggungjawabkan?

Di sinilah Ecolabel Tipe II menjadi relevan.

Sebelumnya, Actia sudah membahas Ecolabel Tipe I, yaitu ecolabel yang melibatkan penilaian pihak ketiga dengan kriteria tertentu. Artikel tersebut bisa menjadi pembuka untuk memahami ekolabel dari sisi sertifikasi dan proses penilaiannya.

Namun, Ecolabel Tipe II punya pendekatan yang berbeda. Jenis ini lebih dekat dengan klaim lingkungan yang dibuat langsung oleh perusahaan terhadap produk atau kemasannya.

Apa Itu Ecolabel Tipe II?

Ecolabel Tipe II adalah klaim lingkungan swadeklarasi. Artinya, klaim dibuat oleh produsen, pemilik merek, distributor, atau pihak yang bertanggung jawab terhadap produk tersebut.

Acuan internasional untuk Ecolabel Tipe II adalah ISO 14021:2016, yang mengatur persyaratan klaim lingkungan swadeklarasi, termasuk pernyataan, simbol, dan grafik yang digunakan pada produk. Standar ini juga memuat istilah klaim lingkungan serta metode evaluasi dan verifikasinya.

Di Indonesia, acuan yang digunakan adalah SNI ISO 14021:2017, dengan judul Label lingkungan dan deklarasi – Klaim lingkungan swadeklarasi (pelabelan lingkungan Tipe II). Standar ini berstatus berlaku dan merupakan adopsi dari ISO 14021:2016.

Jadi, meskipun disebut “swadeklarasi”, bukan berarti perusahaan bebas membuat klaim sesuka hati. Klaim tetap harus jelas, spesifik, tidak menyesatkan, dan memiliki bukti pendukung.

Klaim Hijau yang Paling Sering Dipakai

Ecolabel Tipe II biasanya muncul dalam bentuk klaim singkat pada produk atau kemasan. Misalnya:

“Dapat didaur ulang.”

“Mengandung bahan daur ulang.”

“Dapat digunakan kembali.”

“Lebih hemat energi.”

“Mudah terurai.”

“Mengurangi penggunaan material.”

Klaim seperti ini sering terlihat aman, padahal masing-masing punya konsekuensi pembuktian.

Contohnya, jika sebuah kemasan menyatakan recyclable, perusahaan perlu menjelaskan bagian mana yang bisa didaur ulang dan dalam kondisi apa klaim tersebut berlaku. Jika produk menyebut mengandung bahan daur ulang, sebaiknya ada informasi persentase atau dasar perhitungannya. Kalau klaimnya biodegradable, perusahaan perlu berhati-hati karena proses penguraian sangat bergantung pada kondisi lingkungan, waktu, dan metode pengujian.

Masalahnya, banyak klaim lingkungan gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena bahasanya terlalu umum.

Kata “ramah lingkungan” terdengar menarik, tetapi terlalu luas. Klaim seperti ini akan lebih kuat jika dibuat spesifik, misalnya “kemasan mengandung 30% material daur ulang” atau “mengurangi penggunaan plastik dibandingkan kemasan sebelumnya.”

Risiko Jika Klaim Tidak Disiapkan dengan Benar

Klaim lingkungan bisa membantu produk terlihat lebih bernilai. Tapi jika tidak disiapkan dengan benar, klaim yang sama juga bisa menjadi risiko.

Risiko paling umum adalah greenwashing, yaitu ketika klaim lingkungan terlihat lebih besar daripada bukti yang dimiliki. Ini bisa terjadi karena perusahaan menggunakan istilah yang terlalu luas, tidak punya data pendukung, atau hanya menonjolkan satu aspek kecil produk sambil mengabaikan dampak lain yang lebih besar.

Untuk bisnis, dampaknya bukan hanya soal reputasi. Klaim yang tidak rapi juga bisa memengaruhi kepercayaan buyer, peluang tender, kerja sama dengan brand principal, hingga komunikasi ESG perusahaan.

Terutama untuk perusahaan manufaktur, FMCG, kemasan, tekstil, konstruksi, chemical, consumer goods, dan produk ekspor, klaim lingkungan sebaiknya tidak lagi dianggap sekadar elemen desain. Klaim tersebut adalah bagian dari komunikasi teknis yang perlu disiapkan dengan dasar yang jelas.

Cara Menyiapkan Ecolabel Tipe II agar Lebih Aman

Langkah pertama adalah menentukan klaim yang paling sesuai dengan produk. Jangan langsung memasang banyak klaim sekaligus. Pilih klaim yang memang paling kuat buktinya.

Setelah itu, perusahaan perlu mengumpulkan dokumen pendukung. Bentuknya bisa berupa data komposisi bahan, hasil uji laboratorium, catatan proses produksi, data konsumsi energi, data penggunaan material, dokumen pemasok, atau perhitungan internal yang relevan.

Berikutnya, klaim perlu ditulis dengan bahasa yang tepat. Hindari kalimat yang terlalu absolut seperti “100% ramah lingkungan” jika tidak ada pembuktian yang benar-benar kuat. Klaim yang baik biasanya lebih spesifik, terukur, dan mudah dipahami.

Misalnya, daripada menulis “produk hijau”, lebih baik menggunakan klaim yang menjelaskan aspek lingkungannya secara langsung. Apakah karena menggunakan material daur ulang? Apakah karena lebih hemat energi? Apakah karena kemasannya dapat digunakan kembali? Semakin jelas klaimnya, semakin kecil potensi salah tafsir.

Perusahaan juga sebaiknya mengecek apakah klaim tersebut konsisten dengan visual, ikon, warna, dan narasi promosi yang digunakan. Sebab dalam Ecolabel Tipe II, bukan hanya kata-kata yang perlu diperhatikan. Simbol dan grafik yang memberi kesan lingkungan juga perlu digunakan secara hati-hati.

Ecolabel Tipe II untuk Kebutuhan Bisnis di Indonesia

Di Indonesia, kebutuhan terhadap klaim lingkungan semakin terasa, terutama untuk perusahaan yang mulai masuk ke pengadaan berkelanjutan, ESG, rantai pasok global, dan permintaan buyer yang lebih ketat.

Banyak perusahaan sebenarnya sudah punya inisiatif lingkungan, tetapi belum tahu cara mengemasnya menjadi klaim yang tepat. Ada yang sudah memakai bahan daur ulang, mengurangi material tertentu, melakukan efisiensi energi, atau memperbaiki desain kemasan. Sayangnya, inisiatif tersebut belum terdokumentasi dengan baik sehingga sulit digunakan sebagai klaim produk.

Padahal, jika disiapkan dengan benar, Ecolabel Tipe II dapat membantu perusahaan menyampaikan nilai lingkungan produk secara lebih kredibel. Bukan hanya untuk terlihat “hijau”, tetapi untuk menunjukkan bahwa klaim yang digunakan memang punya dasar.

Butuh Pendampingan Ecolabel Tipe II?

Menyusun klaim lingkungan tidak cukup hanya dengan memilih istilah yang terdengar menarik. Perusahaan perlu memastikan klaimnya sesuai standar, berbasis data, dan aman digunakan dalam komunikasi produk.

Actia dapat membantu perusahaan dalam menyiapkan Ecolabel Tipe II, mulai dari identifikasi klaim yang paling relevan, pengecekan dokumen pendukung, penyusunan narasi klaim, hingga evaluasi risiko greenwashing sebelum klaim digunakan pada kemasan, katalog, website, atau materi pemasaran.

Jika perusahaan Anda ingin mulai menggunakan klaim seperti recyclable, recycled content, biodegradable, reusable, atau klaim lingkungan lainnya, pastikan klaim tersebut sudah disiapkan dengan benar sejak awal.

Diskusikan kebutuhan Ecolabel Tipe II bersama Actia agar klaim lingkungan produk Anda lebih jelas, kredibel, dan siap mendukung kebutuhan pasar, ESG, maupun peluang kerja sama bisnis.



Artikel

Informasi Terkini

Kami update pembahasan tentang berita dan aturan mengenai emisi karbon