27, Fri Feb 2026
Kebanyakan dari kita kalau habis menggoreng, refleksnya sama: minyak sisa langsung dibuang. Dan jujur saja, cara paling “praktis” yang sering terjadi adalah dituang ke wastafel biar dapur cepat rapi. Padahal kebiasaan ini salah dan sebaiknya dihentikan. Minyak jelantah akan mengental saat dingin, menempel di dinding pipa, bikin saluran mampet dan bau, lalu memperberat pengolahan limbah di hilir.
Yang menarik, minyak jelantah yang sering dianggap “cuma limbah” ini sekarang punya cerita baru. Di dunia penerbangan, jelantah justru mulai dilirik sebagai bahan baku energi bersih bernilai tinggi lewat sesuatu yang disebut SAF.
SAF (Sustainable Aviation Fuel) adalah bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang digunakan sebagai pengganti sebagian avtur fosil. Umumnya SAF dipakai lewat campuran (blending) dengan avtur konvensional, sesuai standar keselamatan penerbangan.
Kenapa SAF ramai? Karena penerbangan termasuk sektor yang sulit “ganti mesin” cepat. Pesawat listrik masih terbatas untuk jarak tertentu, hidrogen pun butuh infrastruktur besar. Jadi, SAF sering disebut sebagai langkah yang paling realistis untuk menurunkan emisi sekarang, bukan nanti.
Secara global, organisasi penerbangan seperti IATA menyebut SAF berpotensi menurunkan emisi CO₂ secara siklus hidup hingga sekitar 80% (tergantung bahan baku dan proses produksi). (IATA)
Bagian yang bikin SAF terasa dekat adalah bahan bakunya. Salah satu sumber yang paling sering disebut adalah Used Cooking Oil (UCO) alias minyak jelantah—dari rumah tangga, UMKM kuliner, restoran, sampai hotel.
Di sesi panel COP30 (Brasil), Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyampaikan pesan yang cukup “nendang” soal keseriusan SAF:
“Kita tidak sedang bicara proyek kecil atau sekadar uji coba. SAF adalah langkah konkret menuju kemandirian energi, dan lompatan ekonomi hijau Indonesia.”
(Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, sesi panel COP30, 12 November 2025)
Dan soal jelantah yang naik nilai:
“Minyak jelantah yang dulu dianggap limbah kini bisa menjadi sumber energi bersih yang bernilai tinggi.”
(Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, sesi panel COP30, 12 November 2025)
Kalimat-kalimat ini penting karena menggeser cara pandang: SAF bukan hanya “biar kelihatan hijau”, tapi juga soal kemandirian energi—mendorong Indonesia memanfaatkan bahan baku domestik, bukan sekadar membeli energi dari luar.
Belakangan ini, ada pembahasan bahwa pemerintah mempertimbangkan campuran awal 1% SAF untuk penerbangan (khususnya penerbangan internasional tertentu) mulai 2026. (Reuters, 16 Oktober 2025)
Di sisi lain, peta jalan pemerintah yang pernah disampaikan publik juga menempatkan target campuran awal 1% pada 2027 dan meningkat bertahap sampai target jangka panjang. (Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub)
Kalau kamu melihatnya dari kacamata orang awam, 1% memang terlihat kecil. Tapi di dunia penerbangan—yang standarnya ketat sekali—angka kecil itu sering berarti:
Dengan kata lain, 1% adalah titik start untuk membangun ekosistem, bukan garis finis.
Kabar baiknya, Indonesia tidak memulai dari nol. Kementerian ESDM pernah menyampaikan bahwa minyak jelantah telah diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel dan peluncuran komersial awalnya ditandai penerbangan Pelita Air rute Jakarta–Bali dari Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu, 20 Agustus 2025. (Kementerian ESDM, 20 Agustus 2025)
Di rilis yang sama, disebutkan SAF berbahan UCO ini memenuhi standar mutu yang relevan, dan ada upaya membangun titik-titik pengumpulan jelantah sebagai bagian dari rantai pasok. (Kementerian ESDM, 20 Agustus 2025)
Di COP30, Eddy juga menyoroti fakta yang sering luput: Indonesia disebut memiliki potensi minyak jelantah sekitar 715 ribu ton per tahun, namun yang terkumpul baru sekitar 23%. (ANTARA, 13 November 2025)
Artinya, tantangannya bukan sekadar “bisa bikin SAF atau tidak”, melainkan: bisakah jelantah dikumpulkan dengan rapi, konsisten, dan transparan? Karena tanpa pasokan yang stabil:
Kalau kamu ingin ikut terhubung dengan isu SAF Indonesia, langkahnya tidak ribet—justru dimulai dari kebiasaan dapur:
Kecil? Iya. Tapi kalau target SAF benar-benar berjalan, kebiasaan kecil seperti ini akan punya dampak besar, karena rantai pasok SAF dari minyak jelantah sangat bergantung pada disiplin pengumpulan.
SAF Indonesia itu bukan sekadar jargon. Ia sedang dibahas sebagai kebijakan (1% di tahap awal), sudah pernah diuji/diimplementasikan, dan paling menarik: bahan bakunya bisa datang dari hal yang paling dekat dengan kita—minyak goreng bekas di dapur.
Jadi lain kali selesai menggoreng, mungkin kita bisa berhenti sejenak sebelum menumpahkan jelantah ke wastafel. Siapa sangka, dari botol kecil di dapur, ada peluang kontribusi untuk langit yang lebih bersih.
Kami update pembahasan tentang berita dan aturan mengenai emisi karbon