Terra Preta: Tanah Hitam yang Menginspirasi Riset Biochar

13, Fri Mar 2026

Tahukah Kamu, Ada Tanah yang Kerap Dianggap Menyimpan Memori Masa Lalu?

Warnanya hitam pekat, nyaris segelap arang. Tanah itu bernama ”Terra Preta”. Ia banyak dikenal dari kawasan Amazon, bukan karena tampilannya semata, tetapi karena satu hal yang membuat banyak peneliti terus kembali membicarakannya: kesuburannya bertahan sangat lama. Dalam berbagai penjelasan ilmiah, terra preta dipahami sebagai tanah yang terbentuk kuat oleh aktivitas manusia masa lalu dan kaya akan bahan organik serta karbon hitam yang stabil. Cornell University bahkan menyebut riset tentang terra preta ikut menginspirasi pengembangan teknologi biochar modern.

Cerita biochar menjadi kian menarik, banyak orang awalnya mengira biochar hanyalah arang biasa dengan nama yang lebih modern. Padahal, biochar dibicarakan dalam konteks yang berbeda. FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) menjelaskan biochar sebagai bahan organik yang dikarbonisasi melalui pemanasan dalam kondisi oksigen yang sangat terbatas dan digunakan sebagai pembenah tanah. Jadi, fokusnya bukan untuk dibakar sebagai bahan bakar, melainkan untuk dimanfaatkan kembali ke tanah.


Dari Terra Preta ke Lahirnya Rasa Ingin Tahu tentang Biochar

Yang membuat terra preta begitu penting bukan berarti istilah “biochar” sudah dikenal sejak dulu. Yang lebih tepat, terra preta menjadi salah satu titik yang mendorong dunia modern membaca ulang hubungan antara karbon, biomassa, dan tanah. Dalam science brief Cornell, disebutkan bahwa riset terra preta menginspirasi pengembangan teknologi yang dibangun di atas aplikasi bahan organik stabil dalam bentuk bio-char ke tanah. Dengan kata lain, terra preta bukan “biochar pertama”, tetapi jejak lama yang membantu menjelaskan mengapa material kaya karbon bisa memberi dampak jangka panjang pada tanah.

Dari sudut pandang itu, biochar terasa lebih dari sekadar produk. Ia adalah cara baru melihat residu biomassa. Sekam padi, kayu, tempurung, atau sisa pertanian yang sebelumnya dianggap habis nilainya, ternyata bisa diolah menjadi material kaya karbon yang punya fungsi lebih spesifik. Di sinilah riset biochar berkembang: bukan hanya meneliti bentuk materialnya, tetapi juga bagaimana ia berinteraksi dengan air, unsur hara, dan mikroorganisme di dalam tanah.


 

Biochar Bukan Arang Biasa

Ada satu hal yang perlu diperjelas sejak awal, yaitu biochar bukan sekadar arang biasa. Memang, secara visual keduanya sama-sama hitam. Namun dalam pembahasannya, biochar mengacu pada material hasil pirolisis biomassa dalam kondisi oksigen terbatas yang memang ditujukan untuk aplikasi tertentu, terutama sebagai pembenah tanah. Karena tujuan penggunaannya berbeda, biochar dinilai bukan dari seberapa baik ia terbakar, tetapi dari bagaimana ia bekerja di tanah.

Itulah mengapa biochar banyak dikaji dalam konteks kualitas tanah. Sejumlah literatur FAO dan kajian ilmiah menyebut biochar berpotensi membantu memperbaiki kapasitas tanah menahan air, mendukung retensi hara, dan meningkatkan beberapa aspek kualitas tanah. Kajian lapangan di jurnal Geoderma Regional juga menyimpulkan bahwa biochar memiliki potensi yang baik untuk menyimpan karbon di tanah serta membantu memperbaiki kandungan air tanah pada kondisi terbatas air, meski penulisnya menekankan bahwa studi lapangan jangka panjang tetap dibutuhkan. Jadi, pembahasannya harus tetap jujur: menjanjikan, tetapi tidak boleh dibesar-besarkan.

 

Mengapa Riset Biochar Semakin Relevan?

Hari ini, biochar semakin sering muncul dalam percakapan lingkungan karena ia berada di persimpangan dua kebutuhan besar. Yang pertama, banyak lahan membutuhkan pendekatan pemulihan yang lebih masuk akal, terutama ketika bahan organik tanah menurun dan kemampuan tanah menahan air tidak sebaik dulu. Yang kedua, dunia sedang mencari pendekatan yang bisa membantu menyimpan karbon lebih lama. Dalam factsheet AR6 WGIII, IPCC memasukkan biochar sebagai salah satu opsi carbon dioxide removal berbasis lahan, dengan skala penyimpanan yang dapat berlangsung dari abad hingga milenia di tanah dan sedimen.

Justru di situ daya tarik biochar terasa sangat nyata. Ia tidak bicara dalam bahasa yang terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Orang mungkin tidak selalu akrab dengan istilah carbon removal, tetapi mereka paham ketika limbah biomassa bisa diolah kembali, tanah bisa dikelola lebih baik, dan karbon tidak langsung lepas kembali ke atmosfer secepat biomassa segar yang dibiarkan membusuk atau dibakar terbuka. Biochar menjadi menarik karena ia menyambungkan isu tanah dan iklim dalam satu cerita yang cukup sederhana untuk dipahami, tetapi cukup serius untuk terus diteliti.

 

Biochar untuk Pembenahan Tanah

Di Indonesia, pembahasan tentang biochar juga sudah tidak berhenti sebagai wacana. Kementerian Pertanian memiliki Keputusan Menteri Pertanian Nomor 261/KPTS/SR.310/M/4/2019 tentang persyaratan teknis minimal pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah. Lalu BRMP Tanah dan Pupuk menegaskan bahwa biochar telah diatur sebagai pembenah tanah fungsi khusus, sekaligus menjelaskan manfaat yang dikaitkan dengan perbaikan sifat tanah dan sekuestrasi karbon. Ini penting, karena menunjukkan bahwa biochar sudah masuk ke kerangka teknis pertanian, bukan hanya istilah populer di diskusi karbon. 

Itulah alasan mengapa terra preta masih terasa "hangat" dibicarakan sampai sekarang. Ia mengingatkan bahwa tidak semua ide besar harus lahir dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Kadang, masa depan justru tumbuh dari pengetahuan lama yang akhirnya kita pahami kembali dengan bahasa yang lebih ilmiah. Dan dalam cerita itulah, terra preta tetap berdiri sebagai tanah hitam yang bukan hanya menyimpan jejak masa lalu, tetapi juga menginspirasi arah riset biochar hari ini.



 


Artikel

Informasi Terkini

Kami update pembahasan tentang berita dan aturan mengenai emisi karbon