15, Thu Jan 2026
Kalau kita bicara “deforestasi”, seringnya terdengar seperti isu jauh: ada di pedalaman, di peta, di berita, bukan di hidup sehari-hari. Padahal dampaknya bisa terasa dekat—banjir makin sering, musim makin sulit ditebak, kualitas udara memburuk saat kebakaran lahan, sampai harga pangan yang ikut bergejolak.
Deforestasi itu sederhananya pembukaan hutan secara sengaja, hutan diubah jadi non-hutan untuk kebutuhan lain. National Geographic menjelaskan deforestasi sebagai pembersihan lahan berhutan secara sengaja, yang historisnya banyak didorong pembukaan lahan pertanian, peternakan, serta kebutuhan kayu untuk berbagai industri.
Melihat peta satelit Indonesia selama 10 tahun terakhir memberikan kita gambaran yang kontras. Ada fase yang “campur aduk”, memang benar ada kemajuan kebijakan dan pemantauan, tetapi tekanan dari komoditas, infrastruktur, tambang, dan kebakaran masih terus ada. Kenyataanya, di satu sisi ada narasi dan bukti tentang keberhasilan penurunan laju deforestasi secara nasional. Namun di sisi lain, jika kita memperbesar skala pantauan ke wilayah seperti Kalimantan dan Papua, bercak-bercak cokelat bekas pembukaan lahan justru semakin meluas. Kita sering mendengar bahwa Indonesia adalah paru-paru dunia, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kapasitas "paru-paru" ini sedang diuji oleh kebutuhan ekonomi ekstraktif yang tidak ada habisnya. Berdasarkan data terbaru tahun 2024-2025, Indonesia masih kehilangan lebih dari 175.000 hingga 260.000 hektare hutan per tahun (Data dari: laporan deforestasi netto Kementerian Kehutanan Maret 2025 dan analisis bruto Global Forest Watch 2024). Angka ini menegaskan bahwa meski ada tren penurunan dibandingkan era 2010-an, kita belum benar-benar lepas dari krisis kehilangan hutan alam.
Dampaknya tidak lagi bersifat jangka panjang, melainkan sudah kita rasakan hari ini. Pertama adalah bencana hidrometeorologi. Tanpa tegakan pohon yang berfungsi sebagai spons alami, siklus air terganggu secara permanen. Akibatnya, banjir bandang di musim hujan dan kekeringan ekstrem di musim kemarau kini menjadi peristiwa tahunan di wilayah yang hutannya sudah gundul.
Kedua, ada ancaman krisis iklim global. Hutan hujan tropis kita adalah gudang karbon raksasa. Ketika pohon ditebang atau lahan gambut dikeringkan untuk perkebunan, karbon yang tersimpan ribuan tahun terlepas ke atmosfer. Ini mempercepat pemanasan global yang dampaknya kembali ke kita dalam bentuk cuaca yang tidak menentu dan gagal panen.
Ketiga, masalah yang sering luput dari perhatian adalah hilangnya keanekaragaman hayati dan ancaman zoonosis. Saat habitat satwa liar hancur, batas antara hutan dan pemukiman manusia menghilang. Hal ini memicu konflik satwa-manusia serta meningkatkan risiko perpindahan virus atau bakteri dari hewan ke manusia. Jika hutan terus dibabat, kita bukan hanya kehilangan spesies langka, tapi juga mempertaruhkan keamanan kesehatan global di masa depan.
Mari kita bicara data. Selama satu dekade terakhir (2014–2024), deforestasi di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik namun tetap mengkhawatirkan. Walaupun laju deforestasi tahunan sempat turun drastis pada periode 2020-2022, angka tersebut kembali merangkak naik seiring dengan masifnya proyek strategis nasional dan ekspansi komoditas tertentu.
Berdasarkan analisis data dari Global Forest Watch dan rilis resmi kementerian, berikut adalah daerah yang paling banyak mengalami kehilangan tutupan hutan primer dalam beberapa tahun terakhir:
Data menunjukkan bahwa sekitar 50% dari total deforestasi yang terjadi pada 2024 berlangsung di dalam area konsesi perusahaan. Ini membuktikan bahwa mekanisme pengawasan terhadap pemegang izin masih memiliki celah besar yang dimanfaatkan untuk pembukaan lahan secara agresif.
Langkah pencegahan tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara lama. Kita memerlukan transformasi kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.
1. Di tingkat kebijakan:
2. Di tingkat individu:
Faktanya, menjaga hutan Indonesia bukan lagi soal “romantisme” atau “idealisme”, tapi soal keberlangsungan hidup. Deforestasi yang masih terjadi dalam skala ratusan ribu hektare per tahun menunjukkan kita tidak punya banyak waktu untuk hanya berdebat. Penindakan tegas dari pemerintah, perbaikan praktik industri, dan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab adalah kombinasi yang harus berjalan bersamaan kalau tidak, dampaknya akan makin mahal kita bayar, dari bencana sampai krisis ekonomi.
Kami update pembahasan tentang berita dan aturan mengenai emisi karbon