27, Fri Feb 2026
Kebanyakan dari kita kalau habis menggoreng, refleksnya sama: minyak sisa langsung dibuang. Dan jujur saja, cara paling “praktis” yang sering terjadi adalah dituang ke wastafel biar dapur cepat rapi. Padahal kebiasaan ini salah dan sebaiknya dihentikan. Minyak jelantah akan mengental saat dingin, menempel di dinding pipa, bikin saluran mampet dan bau, lalu memperberat pengolahan limbah di hilir.
Yang menarik, minyak jelantah yang sering dianggap “cuma limbah” ini sekarang punya cerita baru. Di dunia penerbangan, jelantah justru mulai dilirik sebagai bahan baku energi bersih bernilai tinggi lewat sesuatu yang disebut SAF.
SAF (Sustainable Aviation Fuel) adalah bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang digunakan sebagai pengganti sebagian avtur fosil. Umumnya SAF dipakai lewat campuran (blending) dengan avtur konvensional, sesuai standar keselamatan penerbangan.
Kenapa SAF ramai? Karena penerbangan termasuk sektor yang sulit “ganti mesin” cepat. Pesawat listrik masih terbatas untuk jarak tertentu, hidrogen pun butuh infrastruktur besar. Jadi, SAF sering disebut sebagai langkah yang paling realistis untuk menurunkan emisi sekarang, bukan nanti.
Secara global, organisasi penerbangan seperti IATA menyebut SAF berpotensi menurunkan emisi CO₂ secara siklus hidup hingga sekitar 80% (tergantung bahan baku dan proses produksi). (IATA)